Kita tentu pernah mendengar atau mungkin malah ikut melontarkan
guyonan semacam ini: "Aku ingin Tuhan Yesus segera datang kembali...
setelah aku kawin, setelah aku sukses dalam karier dan kaya raya,
setelah aku beranak-cucu, atau (yang agak rohani) setelah dampak
pelayananku mendunia." Kenapa kedatangan kembali Yesus Kristus
cenderung diasosiasikan sebagai gangguan di tengah keasyikan
aktivitas kita di dunia ini?
Paling tidak ada dua gambaran besar tentang kedatangan Tuhan akhir
zaman. Pertama, kedatangan-Nya seperti pencuri yang muncul mendadak
pada waktu malam. Dia datang untuk membawa penghakiman pada
orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Dia datang secara tiba-tiba
di tengah keasyikan mereka menikmati hawa nafsu duniawi (lihat 1
Tesalonika 5:1-11).
Kedua, kedatangan-Nya seperti mempelai laki-laki yang menjemput
mempelai perempuan idamannya. Mempelai perempuan telah siap sedia,
menantikan dengan penuh gairah dan kerinduan. Kedatangan-Nya menjadi
alasan untuk menggelar suatu perayaan yang penuh sukacita,
sorak-sorai, dan kemenangan. Dunia telah dijatuhi hukuman, dan
orang-orang kudus memerintah bersama Dia dalam kekekalan (lihat
Wahyu 19:1-10).
Jadi, bagaimana? Apakah Anda merasa "terganggu" oleh gagasan tentang
kedatangan-Nya kembali, atau sungguh-sungguh siap sedia
menantikannya? Sebagai orang kudus, entah kita meninggal dunia
terlebih dahulu entah kita menyambut kedatangan-Nya selagi masih
hidup, kedatangan-Nya kembali adalah sumber pengharapan dan
sukacita. --ARS
PENGHARAPAN AKAN KEDATANGAN KEMBALI KRISTUS MEMBANGKITKAN
SUKACITA YANG MENGUATKAN KITA MENGHADAPI TANTANGAN HIDUP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar