Selamat datang ke blog Giving ministry

Giving Ministry (GM) : Sebuah pelayanan kerohanian yang bersifat INTERDENOMINASI yang berada dibawah naungan Yayasan Giving Indonesia (YGI).
Lahir di kota Medan-Indonesia, 31 Januari 2009.

VISI : Menjadi tempat persemaian bagi anak-anak Tuhan untuk menggali dan mengembangkan POTENSI baik secara PROFESIONAL dan APOSTOLIK agar berbuah dan siap memberkati kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia dan Bangsa-bangsa.

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Desember 2015

Penantian Yesus di peti persembahan

Markus 12:41-44
#Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. #Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
#Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
#Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Rekan2 Givers.
Yesus seperti kurang kerjaan ya memperhatikan peti persembahan, memandangi orang2 yang memberi persembahan... Dari raut wajahNya terlihat bahwa Dia lama menunggu dengan gelisah dan sedih, karena belum ada persembahan yang menyenangkan hatiNya. MataNya focus ke peti persembahan yang hampir penuh dan mengamati tangan orang-orang yang meletakkan uang persembahan dengan jumlah yang luarbiasa besar dengan dagu mereka terangkat keatas. Tapi itupun ga menyenangkan hatiNya.

Dia melirik ke pengurus sinagoge/gereja saat itu, melihat mereka tersenyum dan saling berbisik bercerita dan memuji para pemberi persembahan besar tersebut. Hati mereka sangat bergembira karena melihat hampir penuh peti persembahan. orang-orang yang memberi jumlah yang besar mereka atur duduknya ditempat-tempat yang terhormat. Murid-murid-Nya juga memuji para petugas sinagog yang profesional yang mendudukkan ditempat-tempat terhormat para penyumbang yang besar.

Berbeda dengan Yesus, yang tetap focus ke peti persembahan dan Dia tetap sedih karena belum ada persembahan yang menarik hatiNya. TIBA-TIBA, sudut mataNya melihat ke arah pintu, dari arah pintu Sinagog masuk seorang janda tua, dengan terbungkuk2 melangkah pelan ke tempat peti persembahan. JUMLAH JEMAAT YANG SUDAH PADAT membuat hanya lorong sempit yang bisa terbentuk untuk jalan ke peti persembahan di depan. Langkah janda yang lambat ini rupanya mulai menghalangi beberapa jemaat yang kaya yang selama ini dikenal sebagai penyumbang yang besar ke sinagog. Situasi ini membuat bisik-bisik pengurus sinagog berhenti dan wajah mereka mulai kesal karena janda yang masuk itu menghalangi pemberi sumbangan yang terbesar.

Mereka mulai mendampingi jemaat kaya tersebut dan mulai mencoba menarik tangan janda tersebut untuk tidak menghalangi jalan jemaat kaya tersebut, ternyata janda itu memiliki tekat yang luarbiasa juga. Niatnya untuk menuju peti persembahan sangat bulat dan tujuannya terlihat tegas di wajahnya. Para pengurus sinagog/gereja kesulitan menyingkirkan janda tersebut. Mereka menghibur jemaat kaya teraebut untuk bersabar, sembari berusaha sedikit kasar untuk mendesak janda tersebut minggir.

Disisi lain, Tuhan sangat menikmati kejadian tersebut. Berbeda dengan pengurus sinagog yang sedang kesal, Tuhan Yesus malah mendapati jantungNya berdebuk kencang seperti menantikan sesuatu yg sangat Dia harapkan sejak tadi. MataNya ga pernah lepas dari janda tersebut. MataNya yang mengamati janda tersebut sejak masuk ke sinagog dan keteguhan hatinya dihadapan pengurus sinagog membuatNya tidak memperhatikan yang lain selain janda tersebut. PerhatianNya total dicuri oleh janda tersebut. Saat janda tersebut mencapai peti persembahan, dengan tersenyum dia meletakkan 2 peser uangnya dan dia bersukacita dan mengucap syukur kepada Allah. Seperti anak mendapatkan hadiah yang lama sekali diharapkannya, demikianlah Tuhan Yesus saat itu. Dia bersorak gembira dan berteriak ditengah-tengah keramaian. Sehingga tempat tersebut hening seketika itu juga dan mulai memandang Yesus yang terkenal itu.

Yesus yang mana penantianNya terpuaskan sekali oleh seorang janda miskin, berdiri, dan dengan bangga Dia menunjuk ke janda tersebut dan memujinya. Dihadapan para muridNya dan para pembesar dan jemaat kaya yang hadir saat itu, berkatalah Yesus dengan lantang: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Kata-kata itu sangatlah keras dan menusuk hati para pengurus, para murid dan jemaat-jemaat kaya yang hadir, tapi respon mereka sebaliknya. ternyata seruan dan pengajaran Yesus tidak menyadarkan para pengurus sinagog/gereja, buktinya sampai sekarang mereka masih juga melakukan hal yang sama di gerejanya. Mengabaikan suara Tuhan, dan mendengarkan para pendonor terbesar di organisasi gerejanya untuk menentukan arah gereja..Hehehe....
BERTOBATLAH!

Salam kasih.

Minggu, 29 November 2015

KEINDAHAN SURGA DI BUMI.

Roma 10:13-15 
Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. 
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
......
Banyak orang mencari keindahan dengan pergi tamasya ke tempat-tempat yang indah, yang menarik hati. Alasannya untuk menghilangkan stress dan kejenuhan setelah penat mencari duit dan penuh aktifitas sepanjang minggu.

Padahal keindahan yang sebenarnya ada pada dirinya. Yaitu ketika dia pergi dan menceritakan tentang kasih Tuhan Yesus kepada orang lain.
Karena "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
Mereka yang bergerak untuk penginjilan mereka itulah keindahan surga. KEINDAHAN SURGA DI BUMI ADALAH PARA PEMBAWA KABAR BAIK/INJIL.

GBU

Jumat, 27 November 2015

Melihat belum tentu mengalami.

Matius 28:11-15 
Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.
Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu
dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.
Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."
Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.
...........

Prajurit yg melihat muzizat kebangkitan, ternyata berhasil dilumpuhkan imannya hanya oleh beberapa keping uang.

Banyak sekali dari tengah-tengah kita, yang mengalami kesaksian tentang Yesus, mengalami Yesus saat punya masalah dan Yesus memberikan pembebasan. Tapi oleh karena karier, melupakan kesaksian tersebut dan menganggapnya tidak penting lagi.
Jangan heran, sungguh-sungguh disaat kuliah dikampus, tidak menjamin sungguh-sungguh saat sudah menerima gaji didunia kerja. Tapi jika di kampus saja sudah tidak sungguh-sungguh pelayanan, harapan apalah yg kita punya padanya untuk sungguh-sungguh pelayanan saat menerima gaji didunia kerja?

Mat 28:11-15, kisah yang sangat menyedihkan. Saksi mata bersaksi dusta. Dusta mereka membuat sampai sekarang dipercaya oleh orang yahudi yaitu mayat Yesus dicuri oleh murid-muridNya.
Orang-orang yang menikmati pelayanan dan dulu bersaksi di depan tentang kebaikan Tuhan dan juga melayani di mimbar sebagai pemusik, WL atau singer, bahkan ikut menjadi pengajar di IBC (intensive bible course) dan penginjilan, tetapi sekarang bersaksi negatif tentang pelayanan dan menyarankan adik-adiknya tidak ikut pelayanan.

Cita-cita pribadi, mengejar karier pribadi, status sosial yang lebih baik, dan hal-hal lainnya yang sifatnya pribadi tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Tuhan atau melibatkan Tuhan didalam hal-hal pribadinya, itu yang membekukan hatinya.

GBU

Yang keras menajamkan yang keras

Salom..
Ams 27:17
"Besi menajamkan besi manusia menajamkan sesamanya."

Orang-orang disekitar kita keras sikapnya pada kita karena kita juga keras dalam bersikap selama ini. Besi tidak mungkin ditajamkan dengan kapas atau kayu, tapi harus dengan benda atau material yang sama atau lebih keras dari besi.

Oleh karena itu mari kita belajar untuk berhenti menyalahkn orang disekitar kita yg tidak sesuai dengan hati kita dan belajar memperlakukan mereka seperti Allah menghendakiNya.

Lalu bagaimana kita memperlakukan mereka yang ada di sekitar kita?
Tuhan Yesus mengajar dan menunjukkan bagaimana bersikap terhadap Yudas Iskariot yang sudah diketahuiNya bakal menghianatiNya dan bagaimana bersikap terhadap Petrus yang diketahuiNya akan menyangkalNya 3 kali

Allah sedang mendidik kita, mengajar kita utk memiliki karakter Allah.

By Deifi-Lintongnihuta
Gbu

Percaya padaNya tanpa Syarat

Matius 27:41-42  

Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.

Sesuatu dihatiku berkata bhw sering kita membuat pola yg hrs Tuhan lakukan untuk membuat kita percaya PadaNya. Kita tidak menyadari bahwa pola itu bukanlah rencana Allah yg terbaik buat kita.
Perhatikan ayat diatas, "...Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya." Jika Tuhan turun dari salib, untuk apa kepercayaannya? Krn Rm 10:9-10, kepercayaan yang menyelamatkan adalah percaya bhw Yesus anak Allah yg MATI DI KAYU SALIB untuk dosa manusia, dan bangkit pada hari ketiga. Jd Yesus harus mati di kayu salib, tapi bagi orang yahudi yg buta hatinya berbeda, Yesus hrs Turun dr salib dgn segala keagungan dan keajaibannya dan penuh dgn sinar kemuliaan, mrk dibebaskan dr pemerintahan roma.

Bnyk dikalangan kita seperti ahli2 taurat itu, berkata:
*jika aku lulus sekolah/kuliah dgn nilai terbaik, aku pasti akan melayani Tuhan. Jika nilaiku semester ini bagus, aku akan memuridkan...Heheheh.... kita atur Tuhan melakukan sesuatu dulu sesuai pola kita, baru kita percaya padaNya. Tanpa kita sadari kita membuat posisi kita diatas Tuhan.

*Jika aku dapat pekerjaan dan gaji yang bagus, aku pasti melayani Tuhan...hehehehe...Tuhan bagimu hny sebatas pekerjaan dan gaji yg ga kamu bawa mati. Dia bisa berikan lebih dari itu, tapi pola berpikirmu membatasi imanmu.

*Jika Tuhan menyembuhkan orangtuaku/kakak ku/dll, aku pasti melayani Tuhan...hehehe...bagimu Tuhan hny seorang dokter/mantri yg kamu bayar dgn pelayanan. Jika yg kamu kasihi sakit lagi dan Dia memilih utk tidak menyembuhkannya tapi memanggilnya pulang ke surga, kamu berhenti melayani. Atas kejadian itu kamu bilang bhw Tuhan jahat dan tidak adil. Krn sebenarnya pelayanan bagimu hny pembalasan/pembayaran atas permintaanmu yg dikabulkan Tuhan utk suatu kesembuhan/berkat.

*banyak lagi yang lain, jika.......(yang sesuai dan memuaskn pikiran, sesuai dgn kehendakmu dan mimpimu)  maka aku akan melayani Tuhan...hehehe, inikah iman? Inikah penyembahan itu? Inikah sikap seorang hamba?
-Keinginan hatimu terpenuhi, maka kamu baru beriman dan bkata Tuhan itu baik.
-kamu bersukacita dan senang2, maka kamu beriman dan bkata Tuhan itu baik.
-kamu tidak dikecewakan pemimpinmu/pembimbingmu, dan mrk terkesan mjaga hatimu seperti mjaga telur yg gampang pecah, dan berkali2 meminta maaf padamu saat wajahmu terlihat aneh saat ditegur. maka kamu beriman dan berkata Tuhan itu baik bagimu.

TAPI ketika semuanya diluar harapan dan kehendakmu, maka Tuhan menjadi musuhmu dan Dia mjadi Tuhan yang jahat bagimu. Kamu Lari dr pelayanan dan mjadi "anti kristus" (tanpa kamu sadari) dgn menjelekkan pelayanan dan menghalangi orang masuk pelayanan. Menjadi hakim yg tahu segalanya tentang kejelekan orang2 pelayanan dan menceritakannya ke mana2, Mengambil posisi suam2 dan merasa sudah cukuplah bersungguh2 (pensiun dr pelayanan). BERTOBATLAH dan Pahamilah injil /Firman Tuhan.

Selamat beraktifitas, GBU.

Jumat, 22 Februari 2013

ALLAH JURUSELAMAT

Sebagai orang Kristen, jika ditanya siapakah Juruselamat kita,
pastilah kita akan menjawab: Yesus Kristus. Tetapi, dalam bacaan
hari ini, Allah, bukan Yesus Kristus, yang disapa sebagai
Juruselamat (1a). Rupanya sebutan Allah Sang Juruselamat lazim
dipakai oleh orang Kristen mula-mula, seperti tercermin di dalam
surat-surat pastoral (lih. 1 Tim. 2:3, 4:10).


Apakah yang hendak ditekankan melalui penggunaan frasa ini? Bahwa
Allah adalah sumber keselamatan. Dengan kata lain, kesadaran atas
maksud keselamatan Allah bagi umat-Nya adalah dasar iman kita.


Karya keselamatan Allah itu menuntun kita kepada keyakinan bahwa
Kristus adalah pengharapan kita (1b). Yesus adalah sumber kehidupan
kekal
yang menanti kita, juga dasar bagi kemuliaan yang akan
diterima umat-Nya saat Dia datang kembali kelak. Karya keselamatan
Allah itu mewujud di dalam diri Yesus Kristus. Paulus dan Timotius,
yang diakui sebagai anaknya yang sah, mendapatkan panggilan untuk
mengambil bagian dalam pelayanan mewartakan keselamatan tersebut.


Dasar iman ini mengingatkan kita bahwa pelayanan yang terlepas dari
kesadaran akan karya keselamatan dan kehendak Allah hanya
mendatangkan kesia-siaan. Surat Paulus kepada Timotius ini tidak
hanya menyapa Timotius, tetapi juga menyapa kita, pengikut Kristus
pada masa kini. Kita juga dipanggil Tuhan sebagai utusan-Nya untuk
mengabarkan keselamatan. Ya, setelah menerima anugerah keselamatan,
kita pun mendapatkan kehormatan untuk mewartakan kabar kesukaan itu.
--ENO

ORANG YANG TELAH MENERIMA KARYA KESELAMATAN ALLAH
AKAN TERPANGGIL UNTUK MEWARTAKAN KABAR KESUKAAN ITU

Senin, 18 Februari 2013

MENANTIKAN PERNIKAHAN

Kita tentu pernah mendengar atau mungkin malah ikut melontarkan
guyonan semacam ini: "Aku ingin Tuhan Yesus segera datang kembali...
setelah aku kawin, setelah aku sukses dalam karier dan kaya raya,
setelah aku beranak-cucu, atau (yang agak rohani) setelah dampak
pelayananku mendunia."
Kenapa kedatangan kembali Yesus Kristus
cenderung diasosiasikan sebagai gangguan di tengah keasyikan
aktivitas kita di dunia ini?


Paling tidak ada dua gambaran besar tentang kedatangan Tuhan akhir
zaman. Pertama, kedatangan-Nya seperti pencuri yang muncul mendadak
pada waktu malam
. Dia datang untuk membawa penghakiman pada
orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Dia datang secara tiba-tiba
di tengah keasyikan mereka menikmati hawa nafsu duniawi (lihat 1
Tesalonika 5:1-11).


Kedua, kedatangan-Nya seperti mempelai laki-laki yang menjemput
mempelai perempuan idamannya
. Mempelai perempuan telah siap sedia,
menantikan dengan penuh gairah dan kerinduan. Kedatangan-Nya menjadi
alasan untuk menggelar suatu perayaan yang penuh sukacita,
sorak-sorai, dan kemenangan. Dunia telah dijatuhi hukuman, dan
orang-orang kudus memerintah bersama Dia dalam kekekalan (lihat
Wahyu 19:1-10).


Jadi, bagaimana? Apakah Anda merasa "terganggu" oleh gagasan tentang
kedatangan-Nya kembali, atau sungguh-sungguh siap sedia
menantikannya? Sebagai orang kudus, entah kita meninggal dunia
terlebih dahulu entah kita menyambut kedatangan-Nya selagi masih
hidup, kedatangan-Nya kembali adalah sumber pengharapan dan
sukacita. --ARS

PENGHARAPAN AKAN KEDATANGAN KEMBALI KRISTUS MEMBANGKITKAN
SUKACITA YANG MENGUATKAN KITA MENGHADAPI TANTANGAN HIDUP

Rabu, 13 Februari 2013

MAWAR DI DALAM DIRI SESEORANG

Alkisah ada seorang laki-laki yang menanam sebuah tanaman bunga mawar. Dia menyiraminya dengan setia setiap hari sampai suatu hari dia melihat kuncup yang akan segera mekar. Tapi kemudian dia melihat duri-duri di sekujur batang tanaman tersebut dan ia berpikir, “Bagaimana mungkin sebuah bunga yang indah muncul dari tanaman yang batangnya dipenuhi dengan begitu banyak duri tajam?” Karena sedih dengan pemikiran tersebut, ia mengabaikan tanaman tersebut. Ia lupa menyirami tanaman tersebut sehingga tanaman itu mati sebelum bunganya merekah.

Begitu pula halnya dengan banyak orang. Dalam setiap jiwa ada sebuah ‘mawar’, yaitu kualitas Ilahi yang ditanamkan di dalam setiap kita saat kita diciptakan. ‘Mawar’ itu tumbuh di tengah-tengah ‘duri’, yaitu cacat cela dan dosa kita. Dan saat kita melihat diri kita masing-masing, banyak dari kita yang hanya melihat ‘duri-duri’ atau cacat cela di dalam diri kita dan mengabaikan ‘mawar’ tersebut. Kita pun merasa putus asa, kita berpikir bahwa tidak ada sesuatu yang baik di dalam diri kita sehingga akhirnya potensi tersebut mati dan terpendam begitu saja.

Sejumlah orang tidak dapat melihat ‘mawar’ dalam diri mereka sendiri, mereka membutuhkan orang lain untuk menunjukkannya kepada mereka. Salah satu hal yang seharusnya dilakukan seseorang adalah bagaimana dia dapat mengabaikan ‘duri-duri’ dalam diri orang lain untuk mencari dan menemukan ‘mawar’ dalam diri orang tersebut.

Hal ini sesungguhnya adalah salah satu karakteristik dari kasih, yaitu melihat ke dalam diri seseorang, mengetahui cacat cela pada dirinya dan menerima orang itu ke dalam hidup Anda sambil mengenali budi luhur dalam jiwa orang tersebut. Bantulah orang tersebut untuk menyadari bahwa mereka dapat menaklukkan cacat cela mereka. Jika kita dapat menunjukkan kepada mereka ‘mawar’ di dalam diri mereka, mereka akan dapat menaklukkan duri mereka. Dan saat itulah mereka akan ‘mekar’.

Prinsip inilah yang diterapkan oleh Tuhan Yesus. Murid-murid Yesus tadinya merupakan sekumpulan orang yang pengecut, ketakutan dan putus harapan. Sebagian besar dari mereka meninggalkan Yesus saat Dia ditangkap, disiksa dan dianiaya. Akan tetapi Tuhan Yesus tidak menjadi kecewa dan kepahitan kepada murid-murid-Nya. Tuhan Yesus tahu bahwa mereka memiliki potensi yang besar. Tuhan Yesus mendatangi murid-murid-Nya dan mengatakan bahwa mereka akan menjadi saksi-Nya di Yerusalem, Yudea, Samaria, bahkan sampai ke ujung-ujung bumi. Akhirnya dengan bantuan Roh Kudus, murid-murid itu benar-benar diubahkan menjadi pribadi yang sungguh berbeda. Mereka yang dulunya pengecut menjadi berani, mereka memberitakan Injil dengan kuasa dan membawa banyak orang ke dalam pertobatan.

Mungkin ada di antara kita yang pasangan, orang tua, teman atau saudaranya memiliki karakter atau sikap yang buruk. Mungkin kita putus asa dan berpikir bahwa mereka tidak mungkin dapat berubah dan akhirnya kita mengalami kepahitan kepada mereka dan tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Ingatlah bahwa kasih itu sabar, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu serta sabar menanggung segala sesuatu. Tetaplah doakan mereka dan perkatakanlah kata-kata positif ke dalam hidup mereka karena perkataan kita mengandung kuasa. Percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Healing Quote:
“Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1 Korintus 13:2)

source : http://hmministry.com

Jumat, 08 Februari 2013

KISAH TEBOW

 Pada 2011, Tim Tebow menjadi ikon fenomenal di dunia American
  football, dengan banyak kemenangan gemilang bersama timnya, Denver
  Broncos. Yang menarik, ia menjadi buah bibir bukan hanya karena
  prestasinya, tetapi juga keberaniannya menyatakan iman kepada
  Kristus. Ia selalu berdoa dengan berlutut di lapangan sebelum
  bertanding. Ia juga sengaja mengecat wajah dengan sebuah alamat ayat
  di bawah kedua mata, misalnya Yoh. 3:16 dan Ef. 2:8-10. Ini terekam
  oleh liputan TV dan membuat banyak penonton penasaran akan isinya.


  Pendidikan rohani yang kuat dari orangtuanya sejak kecil adalah
  dasar kuat yang menolong Tim bertumbuh mencintai Yesus dan
  pelayanan. Di luar lapangan, ia aktif dalam pelayanan mahasiswa dan
  mendirikan Yayasan Tim Tebow sejak 2010. Yayasan ini menolong banyak
  anak yang mengalami sakit berat dan sedang membangun sebuah rumah
  sakit anak di Filipina. Tebow, yang baru berusia 25 tahun, berusaha
  menjadi teladan bagi para penggemarnya. Termasuk dalam menjaga
  kekudusan.


  Sebagai pemimpin yang masih muda, Timotius dinasihati Paulus untuk
  menjaga hidupnya agar tidak menjadi sandungan, sebaliknya menjadi
  teladan. Caranya, dengan terus tekun mempelajari Kitab Suci (ay. 13)
  dan mempergunakan karunia rohaninya (ay. 14). Tujuannya agar
  Timotius semakin dewasa rohani (ay. 15) dan dapat menjadi teladan.
  Tebow dan Timotius berhasil melaksanakan pesan ini selagi mereka
  muda. Mari ikuti nasihat Paulus ini. Berapa pun usia kita sekarang,
  Tuhan akan menolong kita melakukannya. --AW

                    DALAM SEGALA MUSIM HIDUP KITA
            BIARLAH HIDUP KRISTUS NYATA DALAM HIDUP KITA

Selasa, 17 Juli 2012

TOLOK UKUR KARAKTER

1 Timotius 6:2-10
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Timotius 6:10)
Richard Halverson, seorang penulis dan pendeta senat AS, pernah menulis: Yesus Kristus berbicara tentang uang lebih dari hal-hal lain, karena ketika tiba pada sifat alami manusia, uang memegang peran terpenting. Uang merupakan indeks yang tepat untuk menunjukkan karakter sejati seseorang. Di seluruh halaman Kitab Suci, ada korelasi yang sangat dekat antara perkembangan karakter manusia dengan cara ia menangani uangnya.

Banyak tokoh di Alkitab yang dikecam, dihukum, atau dipuji oleh Allah karena sikap mereka terhadap uang. Yudas Iskariot mengkhianati Tuhan Yesus demi tiga puluh uang perak. Ananias dan Safira rebah dan mati seketika setelah berdusta perihal uang yang mereka serahkan. Mereka adalah contoh orang-orang yang jatuh dalam pencobaan berkenaan dengan uang. Uang membuat mereka terjerat dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, hingga akhirnya menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai duka (ayat 10). Namun, ada kisah janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus karena memberi dari kekurangannya. Atau, jemaat Makedonia yang disebut Paulus sangat miskin, tetapi kaya dalam kemurahan (lihat 1 Korintus 8). Mereka ialah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan hati kepada Allah, lalu uang mereka.

Uang hanya salah satu sarana yang kita perlukan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Uang adalah berkat, bukti pemeliharaan Allah atas kita. Uang harus menjadi hamba kita. Jika kita cinta uang, uang akan menjadi tuan kita. Bagaimana Anda menangani uang? Mana yang lebih Anda cintai: Allah dan firman-Nya, atau ... uang?

ALLAH HARUS MENJADI TUHAN ATAS DIRI KITA DAN JUGA UANG KITA.

Ditulis oleh Sari Badudu 

Kamis, 12 Juli 2012

PRIVASI

Ibrani 4:1-16

Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan- Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban (Ibrani 4:13)

Saat membayangkan apa jadinya jika hak privasi tak pernah ada, tiba-tiba saya menjadi sangat malu. Pasti orang akan heran mengetahui film tidak pantas yang pernah saya tonton, percakapan rahasia saya untuk merusak nama baik orang lain, rencana-rencana busuk saya, atau pikiran-pikiran berdosa yang saya nikmati. Namun, kenapa saya tak pernah malu kepada Tuhan yang selalu tahu gerak-gerik, motivasi, pikiran, dan rancangan-rancangan yang paling tersembunyi sekalipun. Saya lebih takut nama baik saya tercemar dibandingkan takut pada kekudusan Tuhan.
Salah satu penyebab kurangnya rasa takut atau malu ketika berbuat dosa adalah adanya jaminan keselamatan bagi kita yang beriman kepada Kristus. Memang, kita pasti masuk ke tempat perhentian-Nya yang kekal (ayat 1,3). Namun, kita masih harus mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan-Nya. Itu sebabnya penulis kitab Ibrani meminta kita waspada (ayat 1) serta taat kepada-Nya (ayat 6,11). Kita harus memegang erat firman Allah untuk menjaga hidup kita tetap bersih (ayat 12). Sebaliknya, ketika kita menyadari dosa, kita mesti berani menghampiri takhta-Nya (ayat 16). Sebab, Kristus Imam Besar kita (ayat 14,15) yang mendamaikan kita dengan Allah.
Jadi, ada dua sikap yang tampaknya bertentangan, tetapi harus ada secara bersamaan dalam diri orang percaya. Pertama, sikap takut berbuat dosa; kedua, sikap berani menghampiri Tuhan Yang Mahakudus. Kita harus menyadari bahwa tak ada yang dapat kita sembunyikan dari pandangan-Nya. Di lain pihak, setiap kali kita berdosa, kita mesti punya keberanian untuk segera datang kepada-Nya, memohon pengampunan.

KEKUDUSAN TUHAN MEMBUAT KITA HIDUP HATI-HATI DI HADAPAN-NYA.
KASIH KARUNIA TUHAN MEMBUAT KITA BERANI MENGHAMPIRINYA.

 Ditulis oleh Heman Elia

Senin, 09 Juli 2012

KETETAPAN ALLAH

Yesaya 46:9-13
Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan (Yesaya 46:10)

Pernahkah Anda berjumpa dengan orang yang plin plan? Pada saat tertentu, ia berkata dengan penuh keyakinan bahwa ia hendak melakukan sesuatu. Kesempatan lainnya, ia mengurungkan niatnya sendiri. Pepatah “bagai air di daun talas” tepat untuk menggambarkan orang plin plan. Butir air di daun talas bisa bergerak kemana-mana karena tidak bisa menempel di permukaan daun yang licin itu. Demikianlah orang plin plan yang terus berubah-ubah dalam pendirian dan perkataannya.

Allah kita bukanlah Pribadi yang plin plan. Firman Tuhan hari ini mengajarkan doktrin tentang ketetapan Allah (God’s decree). Ketetapan Allah tidak berubah sepanjang waktu. Allah tidak pernah membetulkan atau membatalkan ketetapan-Nya. Ketetapan Allah pasti terlaksana sesuai dengan kedaulatan-Nya (ayat 10- 11). Ketetapan Allah juga termasuk hal-hal tidak menyenangkan yang ditujukan untuk mendisiplin umat-Nya (ayat 11). Akhirnya, keselamatan umat-Nya adalah bagian dari ketetapan-Nya (ayat 13). Kebenaran yang terakhir ini sangat menguatkan karena artinya keselamatan kita bersifat pasti. Tidak ada yang dapat menghilangkan anugerah keselamatan dari Allah bagi kita.

Apakah saat ini Anda sedang dirundung keraguan atas rencana- Nya dalam hidup Anda? Apakah Anda sedang mengalami kehilangan keyakinan atas keselamatan Anda? Firman Tuhan hari ini kiranya meneguhkan Anda lagi. Allah yang mengasihi kita bukanlah Allah yang plin plan. Ketetapan Allah sesungguhnya mencerminkan karakter Allah sendiri. Ketetapan Allah sepasti karakter Allah! Dalam keteguhan itu, kita pun beroleh keberanian untuk terus menaati firman-Nya dalam situasi yang paling tidak pasti.

KETETAPAN ALLAH ADALAH JANGKAR YANG KUAT BAGI PERAHU IMAN KITA
DI TENGAH SERANGAN OMBAK KERAGUAN.

 Ditulis oleh Jimmy Setiawan

Jumat, 29 Juni 2012

FOKUS PADA KELUARGA?

Kejadian 3:1-7
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (Kejadian 3:6)

Kalau kita mengumpulkan buku-buku tentang keluarga, akan ditemukan cukup banyak topik mengenai pentingnya mendengarkan pasangan kita. Ada banyak pertengkaran atau bahkan kegagalan di dalam keluarga karena masing-masing gagal menjadi pendengar bagi pasangannya. Lalu muncullah banyak tips menjadi pendengar yang baik agar keluarga menjadi harmonis.

Namun dari bacaan kita, kejatuhan keluarga Adam dimulai justru saat Adam mendengarkan usulan Hawa, istrinya. Dalam sekejap mereka menjadi “sehati-sepikir” untuk sebuah keputusan besar. Entah Adam sungguh-sungguh sepakat dengan ide istrinya atau ia sekadar tak punya keberanian mengatakan tidak kepada usulan Hawa, keputusan mereka berakibat fatal. Mereka sepakat dan kompak untuk tidak taat kepada Allah. Adam tak mampu menjadi pencegah dosa bagi pasangannya. Ia gagal untuk mewujudkan kerinduan Allah agar dengan hadirnya pasangan, kehidupan mereka menjadi lebih baik (Kejadian 2:18).

Betapa sering kita terpesona dengan istilah “keluarga yang harmonis”. Namun seringkali itu diartikan bahwa sebagai sebuah keluarga kita harus selalu sehati-sepikir dalam hal apa pun. Ini akan menjadi jerat yang berbahaya kalau justru kekompakan keluarga menjadi lebih penting daripada ketaatan kepada Allah. Sangat baik kalau kita bisa mendengarkan pendapat pasangan. Namun jauh lebih penting untuk mendengarkan suara Tuhan Sang Kepala keluarga yang sesungguhnya. Bahkan terkadang adu argumentasi justru diperlukan agar kepentingan Allah yang menang.

KETIKA ALLAH MENJADI FOKUS DALAM KELUARGA,
KITA AKAN MENDAHULUKAN KEPENTINGAN-NYA.

Written by Petrus Budi Setyawan 

Kamis, 28 Juni 2012

PEKERJA KATEGORI IV

Nehemia 5
“Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Bukankah kamu harus berlaku dengan takut akan Allah kita untuk menghindarkan diri dari cercaan bangsa-bangsa lain, musuh-musuh kita?” (Nehemia 5:9)

Ed Silvoso, penulis Anointed for Business, membedakan empat jenis orang percaya dalam dunia kerja. Kategori I adalah orang yang hanya bekerja untuk mencari uang. Kategori II merupakan orang yang bekerja dengan prinsip-prinsip kebaikan kristiani. Kategori III terdiri dari orang yang mencari Tuhan dan pimpinannya dalam pekerjaan. Kategori IV yaitu mereka yang mentransformasikan dunia kerjanya bagi Kristus. Termasuk kategori yang manakah Anda?

Nehemia adalah seorang pekerja, seorang bupati di tanah Yehuda (ayat 15). Ia bukanlah seorang nabi, imam, atau rohaniwan. Akan tetapi, ia peduli terhadap pekerjaan Tuhan di puing-puing kota dan masyarakat Yerusalem. Ia menangkap rencana Tuhan di dalam hatinya (Nehemia 2:12, 7:5), lalu bergerak mempersembahkan doa, waktu, tenaga, bahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan melalui pekerjaannya. Pasal yang kita baca memberikan salah satu catatan tentang pengaruh kehadirannya dan kesepenuhan hatinya untuk mentransformasi masyarakat yang sedang dibangun kembali dari pembuangan. Kisah Nehemia menjadi contoh pekerja kategori IV.

”Kegerakan dalam dunia kerja memiliki potensi yang sangat besar karena menjangkau kelompok orang yang memiliki kuasa untuk melakukan perubahan dalam masyarakat,” kata Peter Wagner. Ketika orang yang bekerja di bidang pemerintahan, pendidikan, bisnis, dan sebagainya mulai menangkap tujuan Tuhan dan menyerahkan diri untuk dipakai sepenuhnya, kita akan melihat perubahan-perubahan besar yang memuliakan Tuhan dan memberkati orang lain. Jadilah bagian di dalamnya.

SUDAHKAH KEHADIRAN KITA DI TEMPAT KERJA MEMBAWA ORANG
MENGENAL PRIBADI TUHAN DAN MENGALAMI KARYA TUHAN?

Written by Johan Setiawan 

Sabtu, 23 Juni 2012

HAMBA TANPA NAMA

2 Raja-raja 5:1-19a
Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya” (2 Raja-raja 5:2-3)

Ia seorang kepala bagian rumah tangga di gereja. Setiap Sabtu dan Minggu, ia bertugas menjaga agar semua peralatan elektronik dan perabot tetap rapi dan berfungsi dengan baik. Selain itu, ia juga harus mengatur kebersihan gedung, toilet, dan keteraturan tempat parkir. Ketika ada jemaat yang kurang sabar karena kesulitan parkir, ia dicari untuk dicaci. Hampir tak ada orang menghargai sumbangsihnya, meskipun ibadah nyaris selalu berjalan baik dan lancar. Terlepas dari perlakuan jemaat, ia tetap setia dan sabar melaksanakan tugasnya.

Alkitab juga menyisipkan kisah tentang orang-orang yang tidak dipandang oleh manusia. Inilah keunikan Tuhan yang kerap kali memilih orang kecil dan kurang berarti untuk melaksanakan kehendak-Nya (lihat 1 Korintus 1:27). Di balik mukjizat penyembuhan Tuhan atas diri Naaman, ada jasa seorang gadis kecil yang tak dikenal namanya. Ia hanyalah tawanan yang diperhamba oleh orang Aram, musuh bangsanya. Namun, iman dan kasihnya menggerakkan Naaman yang sakit kusta untuk mencari kesembuhan lewat nabi Tuhan, Elisa. Naaman bahkan kemudian bertekad untuk menyembah hanya kepada Allah Israel (ayat 17).

Semua orang, mulai dari yang paling sederhana dapat dipakai untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Yang dituntut dari kita adalah ketaatan dan kerendahan hati. Ketaatan kita dapat menjadi sarana di tangan Tuhan untuk menggenapi kehendak-Nya. Tidak penting siapa yang memperoleh penghargaan. Yang penting Tuhan dikenal dan dimuliakan.

TUHAN TIDAK PERNAH MEREMEHKAN YANG KECIL DAN KURANG BERARTI,
ASALKAN KITA MELAYANI-NYA DENGAN HATI TULUS DAN BERSUNGGUH HATI.

Written by Heman Elia 

Selasa, 19 Juni 2012

BEDA SELERA

Lukas 19:1-10
Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa. (Lukas 19:7)

Coba bayangkan kejadian ini. Suatu malam kita melihat seorang pendeta sedang duduk bercengkerama dengan para pemuda di pos ronda. Apa reaksi spontan kita? Kita merasa tidak nyaman karena berpendapat bahwa pendeta tersebut tidak bisa menjaga wibawanya. Ataukah kita merasa senang dan kagum karena ada seorang rohaniwan yang bersedia membaur dengan orang kebanyakan?

Menarik sekali untuk mencari tahu mengapa orang banyak bersungut-sungut terhadap keputusan Tuhan Yesus yang akan menginap di rumah Zakheus (ayat 7). Pastilah karena mereka tidak sepakat dengan keputusan tersebut. Hati mereka terusik karena mereka tahu siapa itu Zakheus. Mereka berkeyakinan bahwa tidak sepatutnya orang saleh bergaul rapat dengan orang yang mereka anggap kurang baik hidupnya. Celakanya lagi mereka dengan cepat menganggap dirinya ada di kubu orang saleh, sehingga mereka sangat terganggu. Di sinilah akar masalahnya. Mereka memiliki cara pandang yang berseberangan dengan Tuhan Yesus. Ironisnya, mereka berharap Tuhan Yesus-lah yang menyesuaikan diri dengan cara berpikir mereka, dan bukan sebaliknya.

Apakah kita sering merasa terganggu dengan apa yang Allah putuskan? Apakah kita sering merasa tidak mengerti jalan pikiran dan tindakan Allah, lalu kita bersungut-sungut? Kalau keyakinan kita banyak yang berseberangan dengan Allah, kita akan banyak menemukan konflik dengan-Nya. Mari kita lihat ulang keyakinan-keyakinan kita. Lalu bandingkan dengan isi hati Allah. Ketika ada yang tidak sejalan dengan selera-Nya, kitalah yang perlu menyesuaikan diri dengan-Nya. Bukan sebaliknya!

KETIKA KITA BERBEDA SELERA DENGAN ALLAH,
KITA AKAN MENGHADAPI BANYAK MASALAH.

Written by Petrus Budi Setyawan

Kamis, 07 Juni 2012

YESUS MENGHAFAL AYAT?

 Matius 4:1-11
Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” ... “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” “... ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:4,7,10)

Siapa bilang disiplin menghafal ayat itu hanya untuk anak Sekolah Minggu? Tuhan Yesus sendiri menyimpan banyak ayat Alkitab dalam memorinya. Kebiasaan ini mungkin sekali sudah dipupuk sejak kanak-kanak. Injil Lukas mencatat bahwa pada usia dua belas tahun saja Yesus dengan cakap bersoal jawab dengan para alim ulama!

Bukan sekadar menghafalkan secara mekanis, perkataan Bapa bagi Yesus ialah sumber kehidupan dan senjata perang. Menghadapi iblis, bisa saja Yesus menghardik “Aku bukan manusia biasa, kamu tak mungkin menang, Blis!” Atau, Dia bisa saja menantang Iblis adu ‘kesaktian’ seperti saat nabi Elia menantang nabi-nabi Baal (1 Raja-raja 18:20-40). Namun, firman Tuhan yang tertulis sudah cukup bagi Yesus melawan si jahat (ayat 4,7,10). Berkali-kali dalam Injil kita akan menemukan Yesus mengutip firman Tuhan saat mengajar, misalnya dalam Matius 12:3,5; 19:4; 22:31. Meski Yesus ialah Tuhan, Sang Penulis Alkitab, saat itu Dia sedang mengutip perkataan Alkitab yang dihafalkan-Nya sebagai manusia.

Memang banyaknya ayat Alkitab yang dihafal tidak menjamin seseorang hidup serupa Kristus, tetapi terlalu sedikit asupan firman juga tidak akan menghasilkan keserupaan dengan-Nya. Sudah sewajarnya tiap pengikut Kristus, berusaha hidup makin serupa Dia, termasuk makin bergantung pada “setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Pendeta John Piper meluangkan waktu 5-10 menit setiap hari untuk menghafalkan ayat Alkitab. Jemaatnya membuat program hafalan Alkitab bersama setiap minggu sepanjang tahun. Hal praktis apa yang dapat Anda lakukan untuk menambah asupan firman Tuhan dalam memori Anda?

DALAM HATIKU AKU MENYIMPAN JANJI-MU,
SUPAYA AKU JANGAN BERDOSA TERHADAP ENGKAU.
—Mazmur 119:11

Written by Elisabeth Chandra 

Rabu, 06 Juni 2012

LUPE

Lukas 22:39-46
Sesudah itu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid- Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita. Kata- Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Lukas 22:45-46)

Lupe. Ya, Anda tidak salah baca. Judul ini sengaja dipilih agar tidak mudah dilupakan. Lupe (baca: loo’-pay) adalah bahasa Yunani untuk dukacita, perasaan yang berat, gundah, penuh derita dan kesedihan karena menghadapi saat-saat sulit yang tak terhindarkan. Apa yang biasanya Anda lakukan ketika mengalaminya? Ada yang suka bepergian atau berkumpul dengan teman untuk melupakan masalah. Beberapa lainnya mungkin seperti saya, tidur! Harapannya, dengan tidur, kita tidak lagi lupe atau tidak lagi menderita.

Para murid juga dicatat tidur karena dukacita. Mungkin mereka awalnya berdoa seperti saran Yesus, tetapi karena lelah fisik dan pikiran, mereka pun terlelap. Bisa juga mereka memang memilih tidur karena tak sanggup lagi berdoa. Jika kesulitan tak dapat dihindari, apa gunanya berdoa? Yesus menegur mereka. Berdoa itu vital agar mereka jangan jatuh dalam pencobaan (ayat 46). Makin sulit situasinya, makin perlu kita terhubung dengan Bapa. Yesus sendiri dalam raga manusia gentar dan ingin menghindari penderitaan. Sebab itu, Dia berdoa, memohon agar dalam saat paling kelam, Dia dapat berespons seturut kehendak Bapa (ayat 42). Dengan kekuatan dari Bapa, Yesus menghadapi salib. Murid-murid-Nya? Lari dan menyangkal Yesus.

Iblis tahu bahwa ketika kita terhubung dengan Bapa, kita akan beroleh kekuatan untuk tetap taat melakukan kebenaran, seberat apa pun risikonya. Sebab itu, ia akan menghalangi kita dengan segala cara untuk berdoa. Menjelang kedatangan Kristus kembali, ia akan makin gencar mencobai anak-anak Tuhan. Mari hidup dengan berjaga-jaga dan berdoa. Yesus berjanji, kita akan beroleh kekuatan yang kita perlukan (Lukas 21:36).

BERDOA MEMAMPUKAN KITA MELAKUKAN KEHENDAK BAPA.
COBAAN IBLIS BERUSAHA MENGGAGALKANNYA.

Written by Elisabeth Chandra 

Selasa, 05 Juni 2012

BUKAN SEKADAR LEWAT

Mazmur 1:1-6
“Berbahagialah orang ... yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:1-2)

Donald S. Whitney mengamati bahwa “banyak jiwa yang merana adalah para pembaca Alkitab yang tekun.” Mengapa? Karena mereka hanya membaca saja, dan tidak merenungkannya. Ia menulis, “Jika kita tidak hati-hati, perkataan Alkitab hanya akan menjadi aliran kumpulan kata yang melewati pikiran kita. Segera setelah kata-kata itu lewat dalam pikiran kita ... kita harus segera mengalihkan perhatian pada hal yang sekarang ada di hadapan kita. Ada begitu banyak hal yang harus kita olah dalam otak kita; jika kita tidak menyerap beberapa di antaranya, tidak ada yang akan memengaruhi diri kita.”

Yang disebut pemazmur “berbahagia” juga bukan orang yang sekadar membaca firman Tuhan, tetapi yang merenungkannya siang dan malam. Merenungkan firman Tuhan berarti menyerapnya masuk dalam sistem berpikir kita. Pikiran yang dipengaruhi firman Tuhan inilah yang membuat orang tidak lagi suka berdekatan dengan dosa (ayat 1). Orang yang suka merenungkan firman Tuhan diibaratkan seperti pohon di tepi aliran air. Agar tidak layu, air haruslah diserap dan mengaliri semua bagian di dalam pohon itu, bukan sekadar lewat.

Seberapa banyak Anda “merenungkan” firman Tuhan selama ini? Pakailah 25-50% waktu pembacaan Alkitab untuk merenungkan satu ayat, frasa, atau kata. Lontarkan pertanyaan. Berdoalah. Buatlah catatan tentang hal itu. Pikirkan sedikitnya satu cara untuk menerapkannya. Jangan buru-buru. Benamkan diri Anda dalam firman. Jangan lagi biarkan jiwa Anda merana karena tak sempat menyerap apa-apa. Biarkan firman itu mengaliri dan menyegarkan Anda, memengaruhi hidup Anda dan membuat Anda berbuah-buah pada musimnya.

MAKIN BANYAK MEMBACA FIRMAN, MAKIN KITA AKAN MENGUASAINYA.
MAKIN BANYAK MERENUNGKAN FIRMAN, MAKIN KITA AKAN DIKUASAINYA.

Written by Elisabeth Chandra 

Senin, 04 Juni 2012

"TETAPI” UNTUK TUHAN?

Daniel 1
Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan ddirinya. (Daniel 1:8)

Apakah Anda adalah orang yang menaati Tuhan dengan segenap hati? Ataukah, Anda punya pengecualian jika dihadapkan pada situasi-situasi khusus? “Saya mau taat, tetapi dalam situasi ini semua orang juga pasti melakukannya.” “Saya mau taat, tetapi untuk urusan seperti ini tak mungkin bisa jujur.” “Saya mau taat, tetapi apa salahnya mengikuti syarat peningkatan jabatan dengan beralih keyakinan, bukankah itu hanya formalitas saja?” “Saya mau taat, tetapi kesempatan ini sungguh sayang jika dilepas begitu saja.”

Bayangkanlah Anda ada pada posisi Daniel. Meski ia termasuk seorang buangan di Babel, ia adalah seorang pemuda dari kaum bangsawan dan punya keunggulan dibanding yang lain (ayat 4). Dengan modal itu ia punya kesempatan dididik secara khusus dan nantinya bekerja bagi raja. Ia dan kawan-kawannya bahkan ditawari makan dan minum dari santapan raja (ayat 5). Siapa pun pada zaman itu pasti mau. Lantas, apa yang dilakukan Daniel dan kawan-kawannya? “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja” (ayat 8). Seolah-olah ia mau berkata: “Jabatan dan kesempatan itu menggiurkan, tetapi saya hanya mau taat kepada Allah,” bukan “Saya tahu santapan itu menajiskan, tetapi jabatan dan kesempatan itu mungkin bisa menjadi sarana diplomasi.” Kata “tetapi” ditujukan kepada raja, bukan kepada Tuhan.

Integritas dan iman kita sebagai orang kristiani akan kerap mendapat ujian. Setiap keputusan membawa risiko. Akankah kita taat dalam segala situasi? Pilihan-pilihan kita menunjukkan seberapa berharga Tuhan dibanding kedudukan, keamanan, atau kenyamanan yang ditawarkan dunia.

JANGAN ADA KATA “TETAPI” DALAM MENAATI TUHAN.
PENYERTAAN-NYA AKAN MENEGUHKAN DAN MEMAMPUKAN.

Written by Sicillia Leiwakabessy 

Yang Paling Banyak Dibaca